Determinan Makro Prevalensi Stunting di Jawa Tengah: Peran ASI, Air Bersih, dan Kepemilikan BPJS

Authors

  • Bangkit Ary Pratama Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia Author

DOI:

https://doi.org/10.65307/ns.v1i5.179

Keywords:

air bersih, ASI, BPJS, stunting

Abstract

Pendahuluan: Stunting merupakan indikator kegagalan pertumbuhan kronis yang dipengaruhi determinan multidimensional. Provinsi Jawa Tengah berhasil menurunkan prevalensi stunting menjadi 17,1% pada 2024, namun ketimpangan antarwilayah masih tinggi. Kajian determinan stunting selama ini didominasi pendekatan mikro, sementara analisis kewilayahan yang mengintegrasikan faktor nutrisi, lingkungan, dan jaminan sosial masih terbatas.

Tujuan: Menganalisis korelasi antara lama pemberian ASI, ketersediaan air bersih, dan kepemilikan BPJS dengan prevalensi stunting di Jawa Tengah tahun 2024.

Metode: Studi ekologi dengan desain observasional analitik pada 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Data sekunder dari SSGI dan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dengan ambang signifikansi p < 0,05.

Hasil: Ketersediaan air bersih (r = -0,346; p = 0,042) dan kepemilikan BPJS (r = -0,426; p = 0,011) berkorelasi negatif signifikan dengan prevalensi stunting, dengan BPJS sebagai variabel paling dominan. Lama pemberian ASI tidak menunjukkan hubungan signifikan (p = 0,222) pada skala agregat wilayah.

Kesimpulan: Pemerataan infrastruktur air bersih dan perluasan cakupan BPJS perlu diprioritaskan dalam kebijakan percepatan penurunan stunting. Keterbatasan studi mencakup potensi ecological fallacy dan absennya kontrol perancu individu. Penelitian lanjutan disarankan menggunakan desain multilevel untuk mengintegrasikan determinan makro dan mikro.

Kata Kunci: air bersih, ASI, BPJS, stunting

File Viewer

Viewers

Downloads

Published

2026-06-18 — Updated on 2026-05-30

How to Cite

Determinan Makro Prevalensi Stunting di Jawa Tengah: Peran ASI, Air Bersih, dan Kepemilikan BPJS. (2026). Nusantara Sehat: Jurnal Kesehatan Indonesia, 1(5), 224-231. https://doi.org/10.65307/ns.v1i5.179